Scroll text

Mencintai Sesama Butuh Komitmen, Bukti dan Keberanian

Jumat, 01 Mei 2009

Liputan Media (Metro Balikpapan)



Senin, 30 Maret 2009 , 10:34:00
30 Kasus KDRT Setiap Bulan

JALAN KECAMATAN-Setiap bulan, sebanyak 30 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi di Kota Bandung dan Cimahi. Rata-rata, penyebab terjadinya kekerasan tersebut karena faktor ekonomi. Demikian diungkapkan Yayasan Saudara Sejiwa (YSS), Nandang Noor RH, akhir pekan lalu.
"Rata-rata laporan atau registrasi KDRT yang masuk ke kita (YSS) sebanyak 30 kasus setiap bulannya. Kita sendiri berfungsi untuk memediasi pihak yang mengalami KDRT agar terjadi titik temu untuk penyelesaiannya," ujar Nandang kepada wartawan.
Nandang menjelaskan, kasus KDRT rata-rata dilakukan suami terhadap isteri. Untuk KDRT yang dilakukan isteri terhadap suami, terbilang relatif kecil. Namun, kata dia, tidak menutup kemungkinan KDRT juga dilakukan isteri terhadap suaminya.
Selain kekerasan secara fisik, kekerasan secara psikis juga sering terjadi dalam rumah tangga. Derajat yang berbeda antara isteri dan suami bisa menjadi salah satu pemicunya.
"Penyelesaian KDRT kami lakukan secara musyawarah dengan mempertemukan kedua belah pihak yang berselisih. Kami bertindak untuk melakukan mediasi antara keduanya. Jika tidak ada titik temu, maka perceraian biasanya menjadi jalan terakhir, dan kami akan memasilitasi kedua belah pihak," jelasnya.
Meski begitu, kata dia, angka statistik KDRT pada tahun 2009 mengalami penurunan sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 40 kasus setiap bulannya. Koodinator Pusat Konsultasi dan Pembelajaran Keluarga YSS, Imas Sumartini mengatakan, ada kendala yang dihadapi terkait kasus KDRT ini. Salah satunya adalah keterlambatan pelapor setelah menerima KDRT.
"Kebanyakan dari mereka (korban KDRT) malu untuk melapor karena menganggap bahwa itu adalah sebuah aib. Sehingga kebanyakan dari mereka baru melapor setelah kejadiannya berlangsung beberapa lama. Dengan begitu, kita mengalami kesulitan karena tidak ada hasil visum disebabkan lukanya biasanya sudah sembuh," terang Imas.
Imas menjelaskan, KDRT yang terjadi mayoritas menggunakan tangan kosong, meski tak sedikit pula yang menggunakan alat. Oleh karena itu, kata Imas, banyak korban KDRT merasa tertekan secara psikis sehingga selain menyebabkan perceraian juga berakhir dengan bunuh diri.
Imas lantas mengimbau kepada warga agar segera melapor ke pihak berwenang, jika mengalami KDRT. Tujuannya, agar bukti-bukti yang ada segera mendapat status hukum yang kuat. "Kami (YSS), berperan untuk memediasi kedua belah pihak. Langkah yang kami tempuh adalah menyatukan kembali rumah tangga yang bermasalah. Imbauan kami, bagi masyarakat yang mengalami KDRT untuk segera melaporkan kepada institusi terdekat jika terjadi KDRT," ungkapnya. (ris/jpnn)
http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=11412

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon maaf, komentar yang tidak relevan atau menimbulkan isu Diskriminasi SARA akan di hapus oleh admin sebelum di publish.