Scroll text

Mencintai Sesama Butuh Komitmen, Bukti dan Keberanian

Sabtu, 06 November 2010

Kamis, 10 Juni 2010

RAIH TUJUAN-AKHIRI PEKERJA ANAK _ HARI MENENTANG PEKERJA ANAK SEDUNIA 12 JUNI 2010



Gabung di Grup Facebook : Surat utk mendukung hari menentang pekerja anak sedunia silahkan klik link : http://www.facebook.com/home.php?#!/group.php?gid=125244860840711&ref=ts
RAIH TUJUAN: HAPUSKAN PEKERJA ANAK
12 JUNI 2010

Hari Menentang Pekerja Anak Sedunia, 12 Juni 2010

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak akan diperingati pada tanggal 12 Juni 2010. Peringatan ini diadakan satu bulan tepat setelah Konferensi Global tentang Pekerja Anak yang diselenggarakan di Belanda. Konferensi ini merupakan konferensi global pekerja anak pertama yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun. Hari Dunia ini akan memberikan kesempatan awal bagi kegiatan-kegiatan lokal dan nasional untuk menindaklanjuti momentum yang dihasilkan oleh Konferensi Global serta meningkatkan gerakan mengatasi pekerja anak di seluruh dunia.

Di Hari Dunia ini, kami menyerukan untuk:
• Memperbaharui desakan untuk menghapus Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak.
• Meningkatkan usaha-usaha di tingkat global, nasional dan lokal dengan membuat aksi melawan semua bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, sebagai bagian utuh dari usaha penanggulangan kemiskinan, perlindungan sosial dan strategi perencanaan pendidikan.
• Membangun komitmen politik dan masyarakat luas untuk mengatasi pekerja anak, dengan mitra sosial dan masyarakat sipil sebagai pemegang peran utama dalam advokasi serta upaya-upaya peningkatan kesadaran masyarakat.

Mengatasi Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak
10 tahun sudah berlalu sejak berlakunya Konvensi Organisasi Perburuhan International (ILO) tentang Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (Konvensi ILO No. 182). Konvensi ini telah diratifikasi oleh lebih dari 90 persen dari 182 negara-negara anggota ILO.

Jutaan pekerja anak sudah menikmati manfaat dari tujuan Konvensi untuk melawan praktek-praktek seperti keterlibatan anak dalam perbudakan, kerja paksa, perdagangan anak, ikatan utang, prostitusi, pornografi, rekrutmen paksa atau wajib dalam konflik bersenjata dan semua bentuk-bentuk pekerjaan yang mungkin bisa membahayakan keselamatan, kesehatan, dan moral anak-anak.

Namun, meski ada kemajuan, masih banyak yang harus dilakukan. Masih banyak anak-anak yang terjebak dalam bentuk-bentuk pekerjaan yang tidak boleh dilakukan oleh mereka.

Negara-negara anggota ILO telah menetapkan target untuk menghapuskan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak hingga tahun 2016. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan peningkatan berbagai usaha dan komitmen. Tindak lanjut yang dipertimbangkan dalam Konferensi Global di bulan Mei 2010 menyediakan kesempatan bagi negara-negara anggota untuk menilai kemajuan yang sudah dibuat, apa yang masih perlu dikerjakan, dan bagaimana cara menghadapi tantangan-tantangan.

Meningkatkan Upaya melalui Pengurangan Kemiskinan, Perlindungan Sosial dan Pendidikan

Pekerja anak membuat lingkaran kemiskinan terus berlanjut serta menghalangi keluarga dan bangsa untuk meraih potensi mereka secara maksimal. Tantangan kita adalah memutuskan lingkaran ini. Keluarga miskin mungkin mengandalkan kontribusi yang didapat dari pendapatan anak sebagai tambahan penghasilan bagi keluarga, atau karena tidak cukupnya pendapatan keluarga, mereka mungkin tidak mampu untuk mengeluarkan biaya langsung maupun tidak langsung yang berhubungan dengan pendidikan. Pengentasan kemiskinan keluarga adalah bagian inti dari strategi untuk mengatasi pekerja anak.

Memastikan orang dewasa memiliki pekerjaan yang layak adalah hal yang penting. Pemerintah dapat pula melaksanakan strategi-strategi perlindungan sosial yang membantu keluarga-keluarga miskin. Program Bantuan Langsung Tunai Bersyarat (atau yang dikenal di Indonesia sebagai “Program Keluarga Harapan”) dan program-program penyediaan makanan di sekolah terbukti dapat memberikan dampak positif dalam mempromosikan ketersediaan akses pendidikan dan mengurangi pekerja anak.

Penanganan pekerja anak berhubungan erat dengan kemajuan dalam pendidikan dasar. Menurut perkiraan yang terkini, 72 juta anak-anak usia Sekolah Dasar (yang lebih dari separuhnya adalah perempuan), dan 71 juta anak usia SMP, tidak bersekolah. Banyak juga anak-anak yang terdaftar disekolah tetapi tidak mengikuti kegiatan sekolah secara rutin. Oleh karena itu, harus ada penguatan komitmen di tingkat global, nasional dan lokal untuk memastikan pendidikan bagi semua anak sampai pada usia minimum bekerja, dan memastikan tersedianya kesempatan bagi anak-anak yang telah kehilangan kesempatan untuk berada dalam pendidikan formal.

Membangun Komitmen Politik dan Masyarakat Luas untuk mengatasi Pekerja Anak
Pengusaha dan organisasi pekerja telah menjadi penyokong aktif penerapan Konvensi Pekerja Anak ILO. Jika kita ingin meningkatkan tingkat kepedulian nasional atas pekerja anak, maka perusahaan dan organisasi pekerja harus terlibat secara aktif.

Selain pemerintah, mitra sosial seringkali menjadi penyokong yang paling terorganisir dan paling efektif untuk melakukan aksi. Pada Konferensi Perburuhan Internasional di tahun 2006, Direktur Jenderal ILO mengatakan bahwa, “Konstituensi (elemen) tripartit ILO adalah pemimpin alami dalam mempertahankan kesadaran tentang pekerja anak, membuatnya selalu ada dalam agenda, dan membangun aliansi untuk menghapuskannya, baik secara nasional maupun secara global.”

Organisasi masyarakat sipil lokal juga dapat memainkan peran penting di berbagai komunitas di mana isu pekerja anak merupakan masalah dengan cara meningkatkan kesadaran tentang isu pekerja anak serta mendorong perubahan sikap untuk menentang pekerja anak dan mendukung tersedianya akses dan kesempatan pada pendidikan dan ketrampilan.

Bergabunglah bersama kami pada tanggal 12 Juni 2010!
Hari Dunia Menentang Pekerja Anak bertujuan untuk mendorong kesadaran dan melakukan aksi untuk mengatasi pekerja anak. Dukungan terhadap Hari Dunia menentng pekerja anak telah semakin berkembang setiap tahunnya. Pada tahun 2010 kita mengharapkan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak mendapatkan dukungan secara luas dari pemerintah, pengusaha, serikat pekerja/buruh, Badan-badan PBB dan semua yang peduli terhadap penghapusan pekerja anak.
We would like you and your organisation to be part of the 2010 World Day.
Join us and add your voice to the worldwide movement against child labour.
For more information contact ipec@ilo.org.
Semua gambar/lukisan dibuat oleh anak-anak dari seluruh dunia © Geneva World Association.

Kami berharap Anda dan Organisasi Anda mengambil bagian dalam Hari Dunia Menentang Pekerja Anak tahun 2010. Bergabunglang bersama kami dan berikan suara Anda untuk penghapusan pekerja anak.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi ipec@ilo.org

Rabu, 02 Juni 2010

Sanggar Belajar Saudara Sejiwa




Saat ini, masalah perlindungan anak dan upaya penghapusan diskriminasi terhadap perempuan masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Kondisi yang paling memprihatinkan diantaranya adalah masih terdapatnya anak-anak yang bekerja di sektor pekerjaan terburuk untuk anak, seperti menjadi Pekerja Rumah Tangga Anak (PRTA), dan eksploitasi seksual komersial anak (ESKA), dan korban perdagangan perempuan dan anak Child & woman trafficking).
Studi yang dilakukan oleh ILO-IPEC dan universitas Indonesia pada tahun 2002-2003 memberikan estimasi bahwa jumlah anak-anak usia di bawah 18 tahun yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga secara nasional adalah sekitar 700.000 anak di mana lebih dari 90%nya adalah anak-anak perempuan. Anak-anak perempuan yang berasal dari daerah-daerah pedesaan ini biasanya menjadi pekerja rumah tangga ketika mereka berusia antara 12 dan 15 tahun.
Oleh karena itu, dalam rangka mendukung aksi Pencegahan anak menjadi Pekerja Rumah Tangga Anak (PRTA) dan Korban Perdagangan anak (traficking), SAUDARA SEJIWA FOUNDATION bekerja sama dengan Lembaga Perburuhan Internasional yakni ILO-IPEC melaksanakan aksi pencegahan di 2 Kabupaten, yakni Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam aksi pencegahan ini diantaranya :
A. Kabupaten Bandung Barat
1. Sosialisasi dan Kampanye tentang Anti Pekerja Anak di Tingkat Kabupaten/Kota dan Propinsi Jawa Barat
2. Melaksanakan program pendidikan transisi/ Bridging Course untuk mempersiapkan sekira 20 anak perempuan yang putus sekolah agar bisa kembali ke sekolah formal/ non formal
3. Mencegah anak 250 anak yang masih sekolah agar tidak putus sekolah melalui program beasiswa dan remedial
4. Memberikan dukungan vocational training kepada 30 orang anak yang putus sekolah (27 anak perempuan, 3 anak laki-laki) untuk mengikuti pelatihan manjahit sesuai dengan minat dan bakat mereka.
5. Meningkatkan keberfungsian sosial keluarga melalui program pendidikan keluarga dan pemberian pelatihan keterampilan kepada 50 orang tua dari keluarga tidak mampu dan memiliki anak yang rentan menjadi pekerja anak
6. Penguatan kapasitas 25 kader peduli anak di Kabupaten Bandung Barat yang diharapkan bisa membantu mendukung dan terlibat pada aksi pencegahan anak menjadi PRTA dan korban traficking.
7. Pelatihan 25 orang guru dalam penggunaan modul 3R Training Kit (Right,Responsibility, dan Representation) merupakan modul yang bisa mendorong guru memiliki teknik-teknik atau metode KBM yang menyenangkan dan berpusat pada anak.
8. Melakukan Monitoring dan Penelusuran langsung penerima manfaat program yang dikembangkan ILO

B. Kabupaten Cianjur

Kegiatan yang dikembangkan disini adalah :
1. Penyusunan rencana program bersama warga secara partisipatif
2. Mengembangkan 2 sanggar belajar sebagai alternatif anak-anak penerima manfaat untuk mendapat pendidikan akademis dan non akademis
3. Menyelenggarakan pendidikan tambahan bagi 500 anak yang bekerjasama dengan sekolah-sekolah di Kab. Cianjur
4. Pelatihan 25 orang guru dalam penggunaan modul 3R Training Kit (Right,Responsibility, dan Representation) merupakan modul yang bisa mendorong guru memiliki teknik-teknik atau metode KBM yang menyenangkan dan berpusat pada anak.
5. Melakukan Monitoring dan Penelusuran langsung penerima manfaat program menggunakan software DBMR yang dikembangkan ILO

Tautan : http://webdev.ilo.org/jakarta/info/lang--en/WCMS_125821/index.htm

Selasa, 16 Juni 2009

Community Learning Center


Merupakan Pusat Kegiatan yang menyediakan akses informasi dan aktifitas-aktifitas pembelajaran sepanjang hidup bagi setiap anggota masyarakat di wilayah binaan Saudara Sejiwa Foundation. Tujuannya adalah membuat komunitas tersebut lebih kuat dengan program pendidikan pembelajaran yang partisipatif, dimana masyarakat bisa menentukan kebutuhan dan menggali potensi wilayahnya untuk membangun proses yang lebih baik. PKBM ini diatur/diorganisir oleh komunitas dan untuk komunitas itu sendiri.
Lokasi CLC terletak di Saudara Sejiwa Foundation Cabang Kabupaten Bandung

Kegiatan-kegiatannya :
- Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 20 anak usia 3-5 tahun (gratis)
- Pendidikan kesetaraan : Paket A, B dan C (gratis) Total siswa/ warga belajar yang mengikuti program berbagai jenjang adalah sebanyak 60 Orang
- Keaksaraan Fungsional, dikhususkan bagi warga/ masyarakat yang tuna aksara dan Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (gratis). Jumlah pesertanya : 2 kelompok @ 10 orang
- Tutorial /Bimbingan Belajar (gratis)
- Kursus Komputer, B.Inggris, B.Jepang, dll. (gratis) Jumlah peserta rata-rata 10-15 org
Jika anda berminat mendukung kami dalam bentuk materi atau bentuk lain seperti menjadi volunteer, silahkan menghubungi kami di 022-92452628

Jumat, 01 Mei 2009

Liputan Media (Metro Balikpapan)



Senin, 30 Maret 2009 , 10:34:00
30 Kasus KDRT Setiap Bulan

JALAN KECAMATAN-Setiap bulan, sebanyak 30 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi di Kota Bandung dan Cimahi. Rata-rata, penyebab terjadinya kekerasan tersebut karena faktor ekonomi. Demikian diungkapkan Yayasan Saudara Sejiwa (YSS), Nandang Noor RH, akhir pekan lalu.
"Rata-rata laporan atau registrasi KDRT yang masuk ke kita (YSS) sebanyak 30 kasus setiap bulannya. Kita sendiri berfungsi untuk memediasi pihak yang mengalami KDRT agar terjadi titik temu untuk penyelesaiannya," ujar Nandang kepada wartawan.
Nandang menjelaskan, kasus KDRT rata-rata dilakukan suami terhadap isteri. Untuk KDRT yang dilakukan isteri terhadap suami, terbilang relatif kecil. Namun, kata dia, tidak menutup kemungkinan KDRT juga dilakukan isteri terhadap suaminya.
Selain kekerasan secara fisik, kekerasan secara psikis juga sering terjadi dalam rumah tangga. Derajat yang berbeda antara isteri dan suami bisa menjadi salah satu pemicunya.
"Penyelesaian KDRT kami lakukan secara musyawarah dengan mempertemukan kedua belah pihak yang berselisih. Kami bertindak untuk melakukan mediasi antara keduanya. Jika tidak ada titik temu, maka perceraian biasanya menjadi jalan terakhir, dan kami akan memasilitasi kedua belah pihak," jelasnya.
Meski begitu, kata dia, angka statistik KDRT pada tahun 2009 mengalami penurunan sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 40 kasus setiap bulannya. Koodinator Pusat Konsultasi dan Pembelajaran Keluarga YSS, Imas Sumartini mengatakan, ada kendala yang dihadapi terkait kasus KDRT ini. Salah satunya adalah keterlambatan pelapor setelah menerima KDRT.
"Kebanyakan dari mereka (korban KDRT) malu untuk melapor karena menganggap bahwa itu adalah sebuah aib. Sehingga kebanyakan dari mereka baru melapor setelah kejadiannya berlangsung beberapa lama. Dengan begitu, kita mengalami kesulitan karena tidak ada hasil visum disebabkan lukanya biasanya sudah sembuh," terang Imas.
Imas menjelaskan, KDRT yang terjadi mayoritas menggunakan tangan kosong, meski tak sedikit pula yang menggunakan alat. Oleh karena itu, kata Imas, banyak korban KDRT merasa tertekan secara psikis sehingga selain menyebabkan perceraian juga berakhir dengan bunuh diri.
Imas lantas mengimbau kepada warga agar segera melapor ke pihak berwenang, jika mengalami KDRT. Tujuannya, agar bukti-bukti yang ada segera mendapat status hukum yang kuat. "Kami (YSS), berperan untuk memediasi kedua belah pihak. Langkah yang kami tempuh adalah menyatukan kembali rumah tangga yang bermasalah. Imbauan kami, bagi masyarakat yang mengalami KDRT untuk segera melaporkan kepada institusi terdekat jika terjadi KDRT," ungkapnya. (ris/jpnn)
http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=11412

Kamis, 14 Februari 2008

FAMILY CONSULTATION AND LEARNING CENTER




Merupakan lembaga layanan Saudara Sejiwa Foundation yang mengkhususkan pada pemberian konsultasi dan pendidikan keluarga khususnya keluarga yang mengalami permasalahan psikososial.
Melalui FCLC ini diharapkan keluarga bisa memanfaatkan media konsultasi keluarga untuk meningkatkan keberfungsian keluarga itu sendiri.
Melalui wadah FCLC dikembangkan pula program-program pengembangan kelompok dukungan sebagai sarana problem solving dan brain storming diantara keluarga.
Pelayanan yang diberikan antara lain :

- Penanganan Korban Tindak Kekerasan (KTK), berupa bimbingan sosial, bimbingan kewirausahaan, Bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Rujukan, dll
- Pelayanan Konsultasi Keluarga, berupa bimbingan dan penyuluhan sosial, rujukan ke lembaga pelayanan kompeten.
- Program Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, berupa bimbingan sosial, bimbingan manajemen usaha kesejahteraan sosial, serta bantuan usaha berupa pemberian modal usaha kecil.
- Program pendidikan keluarga seperti Manajemen Keluarga Harmonis, penguatan pola asuh anak, penguatan sikap mental, emosional dan spiritual, dll
- Program Penguatan Kelompok Dukungan
- Sosialisasi dan Advokasi program keluarga seperti : penerbitan buletin warta keluarga, talkshow di beberapa radio swasta Dan RRI Bandung.